Asal Usul Festival Rang Solok Baralek Gadang ( RSBG )

Festival ini menjadi media untuk melestarikan dan menampilkan kembali adat, tarian, musik, dan ritual Minangkabau yang berkaitan dengan kegiatan bertani dan panen 2025, Dengan mengangkat tema panen padi dan produksi beras, RSBG juga menjadi simbol kesadaran dan penghargaan terhadap ketahanan pangan lokal dan penghidupan

  1. Kota Solok sebagai “Kota Beras”
    Kota Solok dikenal sebagai Kota Beras Serambi Madinah, karena lahan persawahan yang luas dan produksi padi yang menjadi bagian penting dari kehidupan warga.

  2. Festival Panen dan Ritual Batulak Bala
    RSBG berakar dari ritual adat Batulak Bala, sebuah prosesi adat di mana masyarakat mengelilingi sawah sambil membaca doa atau shalawat untuk menolak bala dan memohon keselamatan panen. Ritual ini menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar panen berhasil dan dijauhkan dari gangguan dan penyakit tanaman.

  3. Pengembangan Menjadi Festival Budaya Tahunan
    Dari ritual panen dan doa adat, Rang Solok Baralek Gadang berkembang menjadi sebuah festival budaya tahunan yang menyajikan atraksi seperti pawai budaya, bazar kuliner, musik dan tarian tradisional, silek basilumuh (pertunjukan silat di sawah), makan baronjin (makam bajamba), permainan tradisional anak nagari, serta pertunjukan seni kontemporer.

  4. Pengakuan Nasional
    Sejak 2022, Rang Solok Baralek Gadang telah masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) yang dikelola oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) — sebuah penghargaan bagi acara wisata budaya di tingkat nasional, Pengakuan ini menegaskan posisi RSBG sebagai sebuah event budaya dan pariwisata penting di Indonesia, serta menjadi platform untuk mengenalkan Kota Solok dan tradisi Minangkabau ke wisatawan domestik dan internasional.

Baca juga : Festival Budaya Rang Solok Baralek Gadang ( RSBG )

Tinggalkan komentar